Selasa, 27 November 2012

my story


12 mei 2011. Sinar surya ini begitu teriknya. Pandangan kuhampir kabur. Siang yang membuat semua orang mengeluarkan cairan dari tubuhnya. Orang berlalu lalang melewatiku untuk mencari makan siang. Siang yang panas.
            Namaku gizakya. Aku adalah seorang mahasiswi prodi DIII kebidanan denagn kampus yang lumayan ternama di Batam. Meskipun dulu nilai matematika ku tak terlalu baik waktu aku berada di bangku sekolah, tetapi tekadku untuk masuk dunia kesehatan besar. Terlebih lagi cita-cita ku sewaktu kecil adalah ingin menjadi seorang Dokter. Mungkin aku terlalu ambius menurut kalian. Tapi ya. Itu lah aku. Gizakya.
            Sekarang aku mau menceritakan masa waktu aku masih SMA. Sekolah yang amat sangat ku banggakan. Gimana nggak? Tervaforit di Batam loh. Semua anak yang baru tamat dari SMP pun juga ingin masuk SMA ku ini. Pertama kali orang tuaku mengininkan aku melanjutkan ke SMK. Saat itu aku di temani oleh bapakku dan motor tuanya.
            Jalan yang panjang ku lewati bersama bapakku. Kulihat ada 2 orang ibu menggendong anak mereka, sambil membawa air bersih untuk mandi, minum, masak serta keperluan lainnya. Sangat miris memang karena orang di luar Batam sering berfikiran orang-orang yang tinggal di Batam ini adalah orang yang memiliki penghasilan yang tinggi dan mereka pastinya memiliki kemampuan dalam segi ekonomi. Namun, setelah aku lihat hasil buah fikir orang yang berda di luar Batam itu salah.
            Sesampainya aku dan bapakku di SMK yang terkenal itu, ku lihat banyak anak-anak mantan dari sekolah SMP lainnya berkumpul di pagar sekolah itu menungu gerbang terbuka. Maklum sekolah yang menurutku lumayan elit. Sudah lah jalannya menajak, gedungnya bertingkat- tingkat. Takjub aku lihatnya.
Tiba-tiba ada seorang security datang menghampiri kami. Security tiu mengatakan bahwa ambil no antriannya di pos. Ku ambil no antrianku, wah no 156. Jauh kali. Itu pun masih ada lagi beberapa no antrian. Setelah ku lihat no itu di belakang nya tertulis “ jurusan apa yang akan anda pilih a. IT b. elektronika c. mesin
Melihat itu jurusan yang akan aku ambil bapakku bilang ambil IT aja. Dalam hatiku berkata, apa sih IT ni, perasaaan SMP aku nggak ada blajar kayak gini. Mending aku ambil SMA. Itu pikirku.
            Wah,jalan-jalan lagi nih. Kami masuk ke dalam gedung. Ku lihat kelas – kelas ternyata aku lewati kelas IT. Oh ini toh. Dalamnya “KOMPUTER SEMUA” mati awakk, SMP jarang blajar computer, mana lagi bahasa inggris ku buruk. Hehe
Kami melewati tangga demi tangga, sempat- sempatnya ku hitung tangga itu. Lumayan banyak, ntah berapa jumlahnya agak lupa. Kami memasuki sutu ruangan yang di pintunya tertulis “ADMINISTRASI”. Didalamnya ada seorang ibu guru yang dari jauh terlihar perawakannya sudah mulai tua. Aku hanya di luar, sementara yang masuk ke dalam adalah bapakku. Ibu itu menjelaskan administrasi dan syarat-syarat untuk bisa masuk ke SMK tersebut. Anehnya syaratnya musti ada tanda tangan RT/RW atau kelurahan setempat. Ikh, ribet banget sih pikirku. Mau sekolah atau buat KTP ?. Syarat kedua adalah besok memakai baju seragam jika sedang ada test tertulis. Dalam hati ku tertawa, karena aku tak memakai baju seragam, malah baju bebas. Akhirnya aku dan bapakku pulang.  Saat di jalan bapakku bilang, yakin mau masuk sana, lihatlah banyak kali syaratnya. Kalo di pikir – pikir ya juga ya. Ntah lah jawabku.
            Sesampainya aku dirumah, aku langsung tukar baju dengan seragam SMP ku dulu. Aku katakan pada bapakku, lebih baik aku lagsung ke SMA yang bapakku anggap favorit itu daripada aku balik ke SMK tadi. Bapakku kemudian menyetujui keputusanku dan langsung pergi ke SMA tersebut.
            SMA favorit dan terkenal di kota Batam. Ya, memang tak kalah bagusnya. Malah sekolah ini lebih bagus dari SMK tadi pikirku. Sama seperti yang di SMK tadi, ambil no lalu isi formulir, menyertakan hasil nilai SMP. Tak terlalu buruk, lebih gampang ternyata tanpa masuk pake tanda tangan RT/RW atau lurah. Salah satu guru disana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Maaf, kalau mau koment pakai bahasa yang sopan ya... terima kasih